LIHAT LEBIH DALAM


“Langit akhlak telah roboh di atas negeri
Karena akhlak roboh, hukum tak tegak berdiri
Karena hukum tak tegak, semua jadi begini
Negeriku sesak adegan tipu-menipu

 

Sedikit kutipan yang saya ambil dari salah satu puisi karya Taufik Ismail yang berjudul “Ketika Burung Merpati Sore Melayang” kurang lebih sudah bisa memberikan gambaran kepada kita tentang kehidupan nyata yang kita rasakan dan jalankan sekarang ini…

Tapi… bukan kita, lebih tepatnya saya (karena mungkin anda tidak mengalami apa yang saya rasakan).

Apa ini? sayapun kurang paham dengan apa yang saya rasakan. Sesak, abu-abu, buram, dan sulit untuk membedakan dan memilih mana yang cerah mana yang suram.

Jauh saya menatap ke dalam, coba untuk menjamah dan mempertahankan keaslian. Namun apa daya, bagai dunia fatamorgana yang telah menelusup dan memudarkan kebenaran yang ada sampai membuat semua buta dengan kegemerlapan dunia fana.

Kejujuran, aura abu-abu hampir menenggelamkan  hal semacam itu. Semua yang ada bagaikan bunglon yang memiliki banyak warna sehingga bisa dengan mudah bermimikri, dan pada akhirnya siapa dapat menebak warna aslinya??

Masih saya bertahan, ditemani Sang Pencipta yang memberikan arahan tiada hentinya, dan masih perlu saya cerna secara perlahan. Hanya syukur akan nikmat-Nya yang bisa membuat saya kuat atas apa yang terjadi di sekeliling saya.

Matahari, juga pergantian siang-malam membuat saya sadar betapa kecilnya saya. Karena sebesar apapun yang saya perbuat tidak bisa merubah suhu matahari dan tidak pula bisa memperlambat atau mempercepat pergantian siang-malam tersebut.

Bingung… ya saya yakin anda bingung dengan segala analogi yang saya bicarakan ini…

Teringat saya dengan logo organisasi yang dulu sempat saya ketuai..

 

   

Perhatikan gambarnya, bisakah anda melihat ke dalamnya dan pahami apa yang disampaikan oleh gambar itu?

Tidak sedikit orang yang rumit untuk mengartikan gambar tersebut.

Di gambar tersebut ada topeng yang merupakan cerminan diri dari setiap orang yang terbelah menjadi dua. Coba kita lihat dari berbagai sisi. Pertama lihat sisi putih yang tersenyum, semua yang melihat senyumannya juga akan terasa damai dan ikut tersenyum, seperti  bahagia di atas penderitaan si hitam.

Beda rasanya bila kita lihat sisi hitam dengan wajah yang murung seakan melihat dirinya gagal melaksanakan niat jahat untuk menjatuhkan si putih.

Semua setuju dengan itu? Coba anda lihat lagi dan pahami lebih dalam..

Lihat kembali sisi putih, apakah dia benar-benar bahagia?

Dia memang bahagia, tapi lihat dibalik senyumannya itu ada sisi hitam, tatapannyapun hitam, sehingga bisa kita lihat bahwa ada sisi hitam yang bersembunyi dibalik sisi putih, dan bisa saja disimpulkan bahwa si hitam bahagia karena berhasil mengelabui si putih.

Lalu lihat sisi hitam, apakah dia benar-benar murung?

Benar, tapi lihat dibalik kemurungannya ada sisi putih dan tatapnnyapun putih, sehingga bisa diibaratkan si putih telah tertindas oleh si hitam, bahkan karena ulah si hitam, si putih harus menanggung semua hasil perbuatan si hitam sehingga si putihpun terlihat hitam.

Semua sudah banyak terbalik..

Sehingga di gambar itu ada perisai juga yang dimaksudkan agar kita bisa membentengi diri kita dari segala apapun yang terjadi di sekeliling kita, baik itu si hitam ataupun si putih.

Lalu kehidupan tidak lepas dari yang namanya jeratan, daun merambat dalam gambar itu mengingatkan kita bahwa kita harus selalu siap untuk terjerat, tak peduli saat kita menjadi putih ataupun hitam.

Saat saya menilai diri saya sendiri, saya mengubah sudut pandang saya menjadi anda (orang sekitar saya). Saya merasakan saat saya menjadi anda, anda menilai saya sebagai orang yang idealis, namun sayang idealis di sini dianggap negatif bagi anda, sehingga saya menjadi terkucilkan, minoritas, sendiri, dan hilang…

Saya ubah kembali sudut pandang menjadi diri saya sendiri, dan saya akui saya memang idealis. Namun idealis di sini merupakan sifat yang jauh berbeda dengan yang anda bayangkan.

Terus saya berjuang, seperti menjadi sisi hitam yang murung karena tertindas…

“Bosan aku dengan penat, dan enyah saja kau pekat..

Seperti berjelaga jika kusendiri…”

Lemah… itu kata yang paling tepat saat saya mendeskripsikan diri saya sendiri.

Tak jarang saya hampir menyerah dan tidak kuat dengan perjuangan saya ini.  Sempat terbersit dalam benak, saya ingin menjadi sisi yang benar-benar hitam agar bisa bahagia dibalik sisi putih.

Namun saat itu juga mata saya terpejam, dan yang terlihat oleh saya hanyalah kedua orang tua saya. Merekalah kehidupan asli saya. Saya ada karena mereka, mereka yang selama ini menghidupi dan menyayangi saya. Saya khilaf karena hampir melupakan perjuangan dan kehadiran mereka. Kasih sayang mereka berhasil melawan semua rasa putus asa saya terhadap kehidupan di sekeliling saya.

Hal itu membulatkan tekad saya kembali agar tetap menjadi asli, dan berusaha bertahan bahkan melawan segala jeratan yang mengusik hidup saya.

Pendirian, tak peduli dengan seberapa banyak cekalan dan penilaian sekitar terhadap diri saya seperti apa, karena saya hanya ingin tetap pada pendirian saya untuk menjadi yang asli, dan ingin menunjukkan bahwa inilah saya, dan saya bangga menjadi diri saya.

Heran, mungkin anda akan berpikiran bahwa saya keras kepala, tidak mau merubah sikap saya menjadi lebih baik atau apalah itu. Sekali lagi inilah saya, asli seutuhnya, saya memang tidak akan pernah merasa cukup  seperti ini, tapi saya tidak mengejar apapun yang berlebih, dan bila nantipun dunia mengakui keaslian saya, saya tidak akan membiarkan anda diam, saya akan mengembalikan itu semua kepada anda (yang pernah menilai saya hanya dari luar).

 Konsekuensi terburuknya, saya akan menghadirkan rasa sesal pada diri anda karena anda pernah asal dalam menilai saya.

Tapi kebalikannya, saya akan menghadirkan hal positif yaitu memberikan kesempatan kepada anda agar anda merubah sudut pandang penilaian anda terhadap saya, dan saya akan membuat anda untuk mengintrospeksi diri anda dengan “pantaskah penilaian tentang saya yang sempat anda lontarkan saat itu?” sebenarnya penilaian yang anda berikan itu untuk saya atau itu adalah cerminan sendiri dari diri anda..

“Hidup ini, hanya kepingan yang terasing di lautan…”

Yakin, sebagian dari anda menyepelekan bahkan meremehkan seluruh analogi saya ini.

Namun, seluruh orang tahu bahwa kehidupan itu hanya sekali.

Mungkin anda bertanya-tanya mengapa saya seperti ini ?

Tepat, saya sendiripun tidak bisa mendeskripsikannya dengan baik, tapi…

“Bila Tuhan izinkan aku bicara, kubersaksi tak akan pernah menyesal, milik dia yang ku sayang hanyalah dia…

Bila Tuhan izinkan aku meminta, hanya ada satu pintaku yang suci, kubernapas hanya untuk dia bahagia…

Papa, mama…”

Dari kutipan tersebut saya semakin kuat untuk menggenggam keaslian saya, dan masih terus berusaha hanya untuk kedua orang tua saya, dan berupaya sekuat tenaga agar anda bisa melihat saya bukan hanya dari luar, tapi lihatlah saya lebih dalam, kemudian anda akan temukan keaslian, keaslian yang sudah sulit anda temukan…

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s