Siluet Hitam


Terbersit sebuah siluet hitam yang membuatku terpejam sejenak di keheningan malam. Tak lama, setelah itu aku kembali terjaga dan memikirkan apa yang barusan kudapatkan. Coba terus mengingatnya, apa arti dari semua itu, mengapa hanya sejenak namun berhasil merampas rasa penasaranku? Akupun masih tetap terjaga walau posisi kepalaku sudah menempel bantal dan tanganku sudah memeluk guling. Aku paksa terus otakku untuk memutar kembali siluet barusan, namun semakin kumengingatnya semakin membuat tanda tanya besar dalam pikiranku, apa artinya? Dan terlebih lagi apa maksud  Tuhan telah memperlihatkan aku tentang itu??

Terlalu lelah aku memikirkannya sehingga tanpa terasa aku telah lelap di alam bawah sadarku. Aku tak mengingat semua kejadian yang telah kualami di saat terlelap. Namun siluet itu semakin terlihat walaupun belum sangat jelas, yang kuingat saat itu……

aku berada di sebuah rumah dan sedang duduk di atas sofa. Aku heran sedang apa aku di situ, namun aku merasa familiar dengan rumah itu. Rumah yang sebelumnya belum pernah aku tempati di kehidupan nyata, namun ketika aku berdiri dan mulai melangkah rasanya rumah itu sudah kukenal sejak lama. Akhirnya aku bekeliling rumah, dan tiba-tiba aku melihat foto-foto di dinding ruang keluarga yang semakin membuatku heran. Karena itu aku tiba-tiba merasa ingin bercermin. Entah kenapa langkah kaki mengantarku ke depan sebuah cermin besar yang letaknya strategis tak jauh dari ruang keluarga, tak salah lagi, aku merasa sudah hapal dengan semua lokasi dimana ini dimana itu pada rumah tersebut. Dan saat aku melihat wajahku di cermin aku sedikit tercengang, mengapa wajahku mirip seperti di foto tadi? Seingatku, aku masih kuliah dan belum menikah seperti perempuan yang aku lihat di foto pernikahannya yang ada di ruang keluarga itu.

Walau ada di dalam alam bawah sadar, aku masih sempat berpikir mengapa aku bisa berada di sini, lebih tepatnya mengapa aku bisa berada di masa depanku. Tak ragu, aku semakin yakin bahwa aku sedang berada di masa depanku, aku segera keliling lagi melihat-lihat rumah, aku langsung menaiki tangga yang tidak begitu tinggi yang letaknya agak tersembunyi tapi cukup lebar, dan yah sekarang aku berada di lantai 1 karena tak jauh dariku sudah terlihat lagi tangga besar yang lebar menuju lantai 2, sesuai dengan dugaanku bahwa ruang keluarga tadi berada di bawah lantai 1 atau sengaja dibuat agar seperti di lantai bawah tanah. Aku semakin yakin tapi aku juga semakin ingin melihat rumah yang kuanggap sudah akrab sekali denganku. Tak sabar aku menaiki tangga yang menuju ke lantai 2, dan yah lagi-lagi sesuai seperti yang aku bayangkan, di saat sampai pada anak tangga terakhir, di hadapanku terhampar karpet bulu berwarna putih yang melingkari benda di atasnya yang halusnya sudah bisa kurasakan seperti kapas dari jarak sekitar 2 meter dari posisiku berdiri saat itu. Yang membuatku semakin yakin adalah di atas karpet itu terdapat grand piano yang berwarna serba pink, ya bangkunya pun berwarna pink, dengan segera kumenghampirinya dan kuteliti. Benar ini grand piano yang aku inginkan, kuhitung tutsnya, namun hanya dengan melihatnya sekilas aku yakin ini ada 12 oktaf.

Kemudian aku melangkah lagi, dan kakiku terasa dimanjakan dengan lantainya, karena lantai rumah itu bukanlah keramik, melainkan terbuat dari kayu jati yang bertekstur indah, halus tapi tidak licin. Aku semakin yakin tapi aku terus melangkah sampai ke tengah ruangan dan ya aku temukan dapur kecil yang rapi namun ini lebih tepat dibilang seperti bar, karena hanya tersedia 4 bangku bundar seperti di bar-bar yang menghadap meja kayu yang agak tinggi yang menyatu dengan dinding, dan dibaliknya ada beberapa laci, lemari, dan pendingin minuman. Segera kuperiksa isi pendingin minuman tersebut dan isinya sesuai dengan pikiranku, penuh dengan botol susu dan botol yogurt kesukaanku. Lalu aku berbalik aku melihat seperti ruang keluarga lagi di situ ada tv dan sofa serta meja kotak yang di tengahnya ada vas bunganya. Tak jauh dari situ aku melihat beberapa pintu pada dinding, namun langkah kakiku menyeretku untuk masuk ke dalam pintu yang besar yang ada di tengah, kubuka saja dengan mendorong kedua pegangan daun pintunya yang ada di tengah. Aku coba pejamkan mataku, aku melangkah agak cepat dan aku melemparkan tubuhku dengan kencang. Aku hanya mengetes apakah posisinya sama seperti yang ada di bayanganku ternyata sama. Tiba-tiba aku sudah mendarat di kasur empuk. Aku masih terpejam namun sambil tersenyum. Sekarang aku berani mengatakan bahwa rumah ini adalah rumah idamanku saat aku mau berumah tangga nanti. Mengapa aku merasa familiar dengan rumah ini? dengan mudah aku bisa menerka di sini ada apa di sana ada apa ya karena letak dan bentuknya tersimpan dalam pikiranku.

Tapi kemudian aku membuka mata dan berpikir lebih kencang. Siapa laki-laki di foto itu yang berhasil mendampingin aku? Wajahnya samar, belum jelas terlihat. Namun tak lama terdengar bel disertai ketukan pintu dari luar yang sepertinya tidak sabar untuk masuk ke dalam. Aku segera berlari menuruni anak tangga dan menuju pintu utama. Terdengar suara “assalamu’alaikum” darinya yang segera kubalas dengan “wa’alaikumsalam”. Aku sudah memegang 2 pegangan daun pintu itu dan siap membukanya, namun aku membalikkan badan terlebih dahulu untuk melihat jam berapa ini dan menerka siapa yang datang, ternyata sudah jam 7 malam. Aku segera membuka pintunya dan… subhanallah, dia terlihat nyata, aku tahu dia tersenyum melihatku namun wajahnya masih samar, aku tidak bisa melihatnya dengan jelas, tapi entah kenapa aku senang melihatnya. Dengan spontan aku merebut tangannya dan segera mencium tangannya kemudian dia mendaratkan bibirnya di keningku sambil melingkarkan tangannya di pinggangku. Entah apa yang aku lakukan itu namun seperti sudah terbiasa. Tubuhku jadi seperti robot yang digerakkan oleh pemiliknya, karena setelah itu aku sedikit jinjit dan melingkarkan kedua tanganku di lehernya, lalu tanganku bergerak untuk melonggarkan dasi yang dikenakannya dan membuka kancingnya yang paling atas kemudian mengambil koper yang digenggamnya. Aku terdiam, namun dia terlihat bingung melihatku seperti itu sampai akhirnya terdengar suara, “kenapa sayang? Kamu sakit ya?” sambil membelai halus rambutku. Seketika aku menjawab aku tidak apa-apa dan aku katakan padanya “kamu capek banget kan? Kita makan yuk” sambil menggandeng tangannya dengan erat. Namun sebenarnya aku sendiri pun heran, kenapa aku bisa mengajak dia makan? aku tau langkah kaki ini pasti mengantarkan aku ke ruang makan. Aku yakin pria yang aku gandeng ini pasti pria yang ada di foto tadi, ya dia mungkin suamiku, karena nyaman sekali ada di dekatnya, tapi dia mau di kasih makan apa? Dari tadi kan aku belum masak. Tapi Sebelum otakku semakin dalam menggali pertanyaan-pertanyaan lain tiba-tiba pria itu setengah memeluk badanku, dan berkata “kamu baik-baik aja kan sayang? Kamu agak pucat, aku gendong ya”. Dengan cepat tangan kirinya menopang kakiku, dan tangan kanan menopang badanku. Akupun dengan spontan melingkarkan tanganku di lehernya lagi tapi masih memegang kopernya.

Kami sampai di ruang makan dan aku didudukkan di salah satu kursi meja makannya. Dia pun segera duduk di sebelahku. Seketika pula aku tercengang karena meja sudah terisi dengan makanan. Tanpa pasang ekspresi bodoh, aku segera membalikkan piring yang ada di hadapan pria itu, dan mengambilkannya nasi. Pokonya kejadian saat itu hanyalah makan malam dan rasanya sudah seperti biasa kalau dia memuji masakkanku padahal aku tidak tahu kapan aku memasakknya. Setelah makan, tanpa meminta persetujuan dariku, dia kembali menggendongku dan menusuri anak tangga. Aku tau ini pasti arah mau ke kamar. Ternyata dugaanku tepat. Aku didaratkan di kasur tadi dan dia meletakkan kopernya di meja kerjanya yang letaknya tak jauh dari tempat tidur yang dibatasi dengan kaca bening sebagai pemisah ruang tidur dan ruang kerjanya. Aku baru sadar kamar ini luas sekali seperti yang ada di pikiranku. Ada tv yang menempel di dinding, dan ada sofa yang unik sampai aku tidak bisa mendeskripsikannya, karena bentuknya hanya ada di otakku, dan tidak ketinggalan di pojok dekat jendela yang menuju balkon  ke luar kamarku ada piano digital sebagai piano pribadiku, hitam, kecil, portable dan hanya 7 oktaf.

Sambil dia membuka bajunya akupun menawarkan untuk menyediakan air hangat dulu sebelum dia mandi, dia menurut dan aku langsung ke kamar mandi untuk memenuhi bath up dengan air hangat. Aku putar kran shower air panas kemudian aku campur dengan air dingin. Setelah penuh, aku segera memanggil dia dan menyuruhnya mandi. Dia pun segera bergegas masuk ke kamar mandi. Aku menunggunya sambil berpikir lagi, kenapa sepertinya aku sudah terbiasa hidup dengannya, melakukan ini itu seperti layaknya ibu rumah tangga. Tapi aku sadar 1 hal bahwa aku belum punya anak, ya itu menambah informasi untuk diriku sendiri, bahwa aku dan dia belum lama menikah. Karena sangkin terlarut dalam penasaranku tak terasa bahwa dia sudah keluar kamar mandi dan memintaku untuk segera ambil air wudhu karena dia mengajakku untuk shalat isya. Sampai selesai shalat isya sungguh tidak terasa sudah hampir jam setengah 11 malam. Aku mengajaknya tidur, dia pun bergegas ke arah tempat tidur, dia menyelimutiku, mencium keningku sambil mengelus rambutku dan kemudian tidur di sampingku. Rasanya itu semua sudah biasa dilakukan. Sampai tak terasa aku mendengar suaranya lagi membanguniku dari tidur sambil menepun-nepuk pipiku dengan lembut. Perlahan akupun mulai membuka mata kemudian dia menyuruhku untuk mengambil wudhu lagi. Kulihat jam terlebih dahulu, ya tepat perkiraanku saat itu jam setengah 3 pagi, akupun langsung bergegas ambil air wudhu, rasanya tanpa diberitahu akupun sudah tau bahwa dia mengajakku untuk qiyamul lail atau solat malam, ya sebut saja tahajud.

Setelah selesai solat, sambil aku merapikan sejadah dan mukenaku, aku melihat dia langsung bergegas ke meja kerjanya. Dia membuka laptopnya kemudian duduk di kursinya dan mulai memasang wajahnya yang serius tapi itulah ekspresinya yang paling aku suka, namun masih samar. Sebenarnya akupun merasa familiar dengan wajahnya, tapi siapa namanya? Aku ingin sekali menanyakannya tapi takut kalau dia mengiraku amnesia karena tidak tahu nama suami sendiri. Akhirnya aku tersenyum sambil menatap wajahnya yang masih agak samar itu, kemudian aku menghampirinya sampai di kaca perbatasan itu. Namun apa yang aku tanya? Aku malah melontarkan pertanyaan “kamu nggak bobo lagi sayang? Emangnya nggak capek?” lalu dia mengalihkan pandangan dari laptopnya dan menatapku kemudian membalas senyumku dengan senyuman yang tidak kalah manisnya sambil berkata “sini sayang, aku nggak capek kok, kebetulan lagi banyak kerjaan”. Akhirnya akupun mendekat dan berdiri tepat di samping kirinya. Entah apa yang aku lakukan namun setelah aku menatap laptopnya dengan spontan aku merangkulnya dari belakang dan menempelkan pipiku dengan pipinya lalu bertanya “kamu mau aku buatin teh sayang?” dalam hatiku kenapa aku bukan melontarkan pertanyaan seperti siapa sih nama kamu sayang atau kamu bisa cerita nggak gimana caranya waktu itu kita ketemu, soalnya aku merasa bukan orang asing buat kamu. Tapi itu hanya dalam hati, seketika itu pula dia menjawab pertanyaanku dengan “nggak usah lah sayang, kamu mendingan bobo lagi gih, aku janji nanti aku bangunin lagi kalau udah subuh ya”. Lalu aku hanya menjawab “okee semangat ya sayang” sambil melepas rangkulanku dari bahunya dan berjalan menuju tempat tidur. Sebenarnya sambil berjalan aku yakin tanpa dia janjipun aku seakan sudah hapal bahwa dia  pasti membanguniku untuk subuh. Akhirnya akupun menarik selimutku lagi dan dengan cepat sudah tertidur pulas.

  

Tak lama terdengar alarmku berbunyi, sambil aku mematikannya ternyata pas terdengar suara adzan subuh. Aku segera membuka mataku dengan perlahan, namun ternyata aku sudah kembali ke alam sadarku. Ingin rasanya segera aku tuliskan apa yang telah aku alami dan ingin juga rasanya menerka siapa pria itu, sungguh bersyukur aku telah dipertemukannya walau hanya dalam mimpi, namun aku masih sangat penasaran mengapa rasanya aku sudah pernah bertemu dengan dia sebelumnya walaupun sebentar tapi rasanya aku pernah melihatnya. Namun kuputuskan untuk ambil air wudhu dan melaksanakan shalat subuh terlebih dahulu.

Selesai shalat, aku kembali mengingat-ingat wajahnya, namun ya apa daya, dalam siluet hitam itu wajahnya terlihat samar dan belum begitu jelas namun aku memang suka sekali dengan parasnya. Ini sungguh menjadi tanda tanya besar untuk diriku. Dalam hatiku aku bertanya-tanya pada Tuhanku, siapakah pria itu, beruntung sekali jika aku benar-benar dipertemukan olehnya. Sesungguhnya dia nampak  seperti lelaki sempurna yang kuimpikan. Kesempurnaannya wajar, sempurna dalam hitungan manusia dan tentunya tetap tidak menyaingi kesempurnaanMu ya Tuhanku. Pria yang bisa membuatku semakin mencintaiMu saat aku bertemu dengannya ya Tuhanku, pria yang bisa membimbingku dan menjadi imam sesungguhnya untukku ya Tuhanku, pria yang bisa membuatku semakin menjaga kehormatanku hanya untuk dia dan demiMu ya Tuhanku, pria yang bisa bersikap sopan dan bertutur lembut sehingga dia bisa memperlakukan perempuannya dengan baik ya Tuhanku, pria yang bisa menjaga pandangannya hanya untuk perempuan yang dimilikinya ya Tuhanku, juga pria yang pastinya sangat dekat denganMu karena bisa membuat perempuannya semakin bersyukur setelah dipertemukan dengannya ya Tuhanku.

Namun sekilas nampak lagi dalam pikiranku sebuah siluet hitam lainnya. Yah, kali ini aku kenal siluet itu. Siluet yang dulu juga pernah menghampiriku beberapa tahun silam, namun masih melekat di pikiranku. Sambil memulai kembali ke siluet masa lalu itu tiba-tiba…. Yah benar, aku sadar akan suatu hal. Di siluet masa lalu itu juga ada seorang pria dengan perawakan yang sama dengan pria yang ada di mimpiku semalam. Iya benar, aku mengingatnya, di siluet masa lalu wajahnyapun samar-samar, namun walaupun samar aku memang sudah menyukai parasnya. Namun setelah diingat-ingat, mulailah mucul sebuah titik terang tentang pria itu. Ya, di siluet masa lalu aku sudah pernah mengetahui nama pria itu, namun waktu itu dia belum menjadi suamiku, tidak seperti di siluet yang baru ini. Ya aku tahu dan aku yakin, pria itu sama, tapi apa maksud dari semua ini? mengapa Tuhan memberiku mimpi yang berbeda namun dengan pria yang sama tapi terpaut dengan waktu yang cukup lama ya kurang lebih masuk hitungan tahun. Aku tidak berani untuk sembarang mengartikannya sampai sekarang. Namun aku yakin, Tuhan sedang menjawab kerinduanku akan pria di siluet itu, karena kuakui akhir-akhir ini aku memang sedang rindu dengan sosok pria seperti itu.

Namun yang aku tahu nama pria itu Evan, dan aku yakin di siluet hitam yang baru pun dia tetap bernama Evan. Aku kurang ingat bagaimana cara aku bertemu dengannya di siluet masa lalu itu, kenapa efeknya bisa sampai seperti itu di mimpiku. Yang aku tahu kenyataannya, seumur hidupku aku belum pernah secara langsung berkenalan dan bertemu dengan seorangpun yang bernama Evan, tapi aku yakin bercampur bingung, karena kurasa Evan tidak asing bagiku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s